Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific
Berita  

Selamat Jalan Sang Raksasa Terakhir Mazhab Frankfurt

Selamat Jalan Sang Raksasa
Skintific

Selamat Jalan Sang Raksasa Dunia pemikiran kritis kehilangan salah satu tokoh besarnya.

Medan Bicara – Selamat Jalan Sang Raksasa Sosok yang kerap dijuluki sebagai “raksasa terakhir” dari Mazhab Frankfurt itu kini telah berpulang, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah filsafat modern. Kepergiannya menjadi momen refleksi bagi banyak kalangan akademisi, intelektual, dan aktivis yang selama ini terinspirasi oleh gagasan-gagasannya.

Figur yang dimaksud adalah Jürgen Habermas, seorang filsuf yang dikenal luas sebagai penerus generasi kedua Mazhab Frankfurt. Ia dianggap sebagai penjaga nyala pemikiran kritis yang diwariskan oleh para pendahulunya seperti Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer. Melalui karya-karyanya, Habermas berhasil membawa teori kritis ke ranah yang lebih luas, terutama dalam konteks demokrasi, komunikasi, dan ruang publik.

Skintific

Mazhab Frankfurt sendiri merupakan aliran pemikiran yang lahir dari Institut für Sozialforschung di Jerman pada awal abad ke-20.

Aliran ini dikenal dengan pendekatannya yang kritis terhadap kapitalisme, budaya massa, dan struktur kekuasaan modern. Dalam perkembangannya, Mazhab Frankfurt tidak hanya menjadi gerakan akademik, tetapi juga memengaruhi berbagai disiplin ilmu, mulai dari sosiologi hingga kajian budaya.

Habermas membawa warna baru dalam tradisi tersebut melalui konsep “tindakan komunikatif” yang menekankan pentingnya dialog rasional dalam kehidupan sosial. Ia percaya bahwa komunikasi yang bebas dari dominasi dapat menjadi dasar bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan demokratis. Gagasan ini menjadi salah satu kontribusi terpenting dalam filsafat politik kontemporer.Mazhab Frankfurt - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Baca Juga: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan Lebat hingga Petir

Kepergiannya menandai berakhirnya era panjang pemikiran klasik Mazhab Frankfurt.

Banyak pihak menyebutnya sebagai “raksasa terakhir” karena ia adalah figur yang masih aktif mengembangkan teori kritis hingga usia senja, bahkan ketika banyak rekan sezamannya telah lebih dulu tiada.

Di berbagai belahan dunia, ucapan duka dan penghormatan mengalir dari kalangan akademisi. Universitas-universitas ternama, jurnal ilmiah, hingga komunitas intelektual mengenang peran besar Habermas dalam membentuk cara pandang kritis terhadap masyarakat modern. Ia bukan hanya seorang teoritikus, tetapi juga intelektual publik yang aktif menyuarakan pandangannya terhadap isu-isu global, seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan integrasi Eropa.

Meski telah tiada, warisan pemikiran Jürgen Habermas dipastikan akan terus hidup.

Karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting bagi generasi baru yang ingin memahami kompleksitas dunia modern melalui lensa kritis.

“Selamat jalan, sang raksasa terakhir,” mungkin menjadi ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kehilangan ini. Namun seperti banyak pemikir besar lainnya, ia tidak benar-benar pergi—ia tetap hadir dalam setiap diskursus, dalam setiap perdebatan, dan dalam setiap upaya manusia untuk membangun masyarakat yang lebih rasional dan adil.

Skintific