1. Polda Sumut: “Pendukung Bobby Nasution Kepung Polda Sumut, Tuntut Penegakan Hukum!”
Medan Bicara Polda Sumut Ratusan massa tumpah ruah di depan Markas Polda Sumut, siang tadi. Mereka datang membawa semangat dan spanduk bertuliskan kecaman terhadap dugaan penghinaan terhadap Kahiyang Ayu, istri Gubernur Sumut, dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Aksi berlangsung selama satu jam, diwarnai orasi bergantian dan kemacetan lalu lintas di depan kantor polisi. Perwakilan massa masuk ke SPKT Polda untuk menyerahkan aspirasi mereka secara langsung.
2. Judul: “Bukan Urusan Politik, Ini Soal Martabat Perempuan: Aksi Bela Kahiyang Ayu di
“Kami tidak bicara soal empat pulau atau Aceh, ini soal harga diri seorang perempuan yang jadi ibu dari anak-anak di Sumut,” kata orator dalam aksi tersebut.

Baca Juga: Nadiem Makarim Kasus Korupsi Pengadaan Laptop, Pengacara Hotman Paris pun Buka-bukaan
3. Polda Sumut: “Protes Jalan Terus: Pendukung Bobby Ultimatum
Tak puas dengan jawaban dari Direktorat Siber, massa pendukung Bobby Nasution mengancam bakal melakukan aksi lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar.
4. Dari Jalanan ke Meja Polisi: Pendemo Bobby Serahkan Tuntutan ke
Tuntutan mereka jelas: tangkap dan adili pelaku penghinaan terhadap keluarga gubernur.
Aksi hari ini pun menjadi pembuka gelombang protes lebih besar jika tak segera ada penanganan.
5. Judul: “Massa Turun ke Jalan, Lalu Lintas Tersendat: Medan Dihentikan Aksi Bela Bobby”
Puluhan kendaraan pendemo membuat jalur depan tersendat. Aksi damai ini sempat mengganggu aktivitas warga yang melintasi kawasan tersebut. Namun para pendukung tetap bersikukuh bahwa aksi ini demi “keadilan untuk Kahiyang Ayu.”
Meski terkesan spontan, aksi mereka cukup terorganisir: lengkap dengan pengeras suara, tim dokumentasi, dan barisan orator.
6. Judul: “‘Keturunan Dajjal’? Pendukung Bobby Nasution Tuntut Hukum Berdiri Tegak”
Pernyataan salah satu konten kreator yang menyebut keluarga Bobby Nasution sebagai “keturunan Dajjal” jadi pemicu utama kemarahan massa. Erwan Rozadi menyebut ini bukan lagi kritik, melainkan bentuk ujaran kebencian yang menyerang kehormatan pribadi dan keluarga.












