Perang Seratus Tahun: Pertarungan Tahta, Kebangsaan, dan Lahirnya Eropa Baru
Medan Bicara — .. ini bukan sekadar perang tentang wilayah, tetapi juga perang tentang legitimasi kekuasaan, identitas nasional, dan arah masa depan benua Eropa.
Dari medan perang Crécy hingga kisah heroik Jeanne d’Arc, Perang Seratus Tahun mengubah wajah politik, teknologi militer, dan bahkan semangat nasionalisme di Eropa.
Akar Konflik: Tahta yang Diperebutkan
Latar belakang perang ini bermula dari sengketa suksesi kerajaan Prancis.
Ketika Raja Charles IV dari Prancis meninggal tanpa keturunan laki-laki pada tahun 1328, muncul pertanyaan besar: siapa yang berhak atas tahta Prancis?
Pihak Inggris, melalui Raja Edward III, mengklaim haknya sebagai cucu dari Raja Philippe IV dari Prancis melalui garis ibu. Namun, bangsawan Prancis menolak klaim tersebut dengan alasan bahwa hukum Salic (yang melarang warisan tahta melalui garis perempuan) melarangnya. Mereka memilih sepupu Charles, yakni Philippe VI dari Valois, sebagai raja baru.
Perselisihan ini menjadi percikan api yang menyalakan perang panjang antara dua kekuatan terbesar di Eropa Barat.
Baca Juga: KPK Mulai Cium Bau bau Korupsi Proyek Whoosh, Tanah Negara Malah Dijual Kembali ke Negara
Gelombang Pertama: Kejayaan Inggris (1337–1360)
Edward III tidak hanya menolak keputusan itu, tetapi juga menobatkan dirinya sebagai Raja Prancis pada 1340. Dengan kekuatan ekonomi dan angkatan laut yang tangguh, Inggris melancarkan serangan besar ke daratan Prancis.
Beberapa kemenangan besar Inggris mengguncang Eropa:
Pertempuran Crécy (1346) – Inggris memanfaatkan longbow (busur panjang) untuk menghancurkan pasukan ksatria Prancis.
Pengepungan Calais (1347) – Inggris merebut pelabuhan strategis Calais, yang menjadi basis mereka di Prancis selama satu abad.
Pertempuran Poitiers (1356) – Pangeran Edward “the Black Prince” berhasil menangkap Raja Jean II dari Prancis.
Kemenangan demi kemenangan membuat Inggris tampak tak terkalahkan. Namun, wabah Black Death (1347–1351) melemahkan kedua belah pihak, menghancurkan ekonomi, dan menewaskan jutaan jiwa di Eropa.
Perdamaian Sementara dan Perang yang Kembali (1360–1415)
Perjanjian Bretigny (1360) mengakhiri sementara perang. Inggris memperoleh wilayah luas di barat daya Prancis, sementara Edward III melepaskan klaim atas tahta Prancis.
Namun, perdamaian itu hanya bertahan sebentar.
Ketika kekuasaan di Prancis melemah karena konflik internal, Raja Charles V dari Prancis melakukan serangan balik yang berhasil merebut kembali banyak wilayah. Inggris mulai kehilangan kekuatannya akibat masalah keuangan dan perang saudara kecil di dalam negeri.
Pada pergantian abad ke-15, keadaan berbalik. Raja Henry V dari Inggris memutuskan untuk melanjutkan ambisi leluhurnya.
Gelombang Kedua: Kebangkitan Henry V (1415–1429)
Tahun 1415, Henry V melancarkan invasi besar ke Prancis dan mencatat kemenangan legendaris di Pertempuran Agincourt.
Dengan pasukan kecil melawan tentara Prancis yang jauh lebih besar, strategi busur panjang Inggris kembali menjadi faktor penentu.
Keberhasilan ini menghidupkan kembali klaim Inggris atas tahta Prancis. Melalui Perjanjian Troyes (1420), Henry bahkan diakui sebagai pewaris sah takhta Prancis, menikahi Putri Catherine, putri Raja Charles VI.
Namun, takdir berkata lain: Henry V meninggal muda pada 1422, meninggalkan putranya yang masih bayi, Henry VI. Situasi ini membuka jalan bagi perlawanan baru dari rakyat Prancis.
Jeanne d’Arc dan Gelombang Nasionalisme (1429–1453)
Ketika Prancis terpecah dan hampir menyerah, muncul seorang gadis muda dari desa kecil Domrémy: Jeanne d’Arc. Ia mengaku mendapat panggilan ilahi untuk menyelamatkan Prancis.
Pada tahun 1429, Jeanne memimpin pasukan Prancis membebaskan kota Orléans, yang dikepung Inggris. Kemenangan itu mengubah arah perang — dari kekalahan menuju harapan.
Jeanne kemudian mengantarkan Charles VII untuk dimahkotai sebagai raja sah Prancis di Reims, sebuah simbol kebangkitan nasional.
Namun nasib tragis menimpa sang pahlawan muda. Jeanne ditangkap oleh sekutu Inggris, diadili atas tuduhan bid’ah, dan dibakar hidup-hidup di Rouen pada tahun 1431.
Meski demikian, kematiannya justru membakar semangat rakyat Prancis. Ia menjadi simbol kebangkitan nasionalisme dan perlawanan terhadap penjajahan asing.
Akhir Perang: Kejatuhan Inggris dan Kelahiran Bangsa Prancis
Setelah kematian Jeanne, perang berlanjut selama dua dekade. Prancis perlahan membangun kembali kekuatan militernya dengan reformasi dan persenjataan baru, termasuk penggunaan meriam artileri yang mulai menggantikan ksatria berkuda.
Inggris kehilangan dukungan rakyatnya dan mengalami krisis internal yang kelak berkembang menjadi Perang Mawar (Wars of the Roses).
Sementara itu, Prancis berhasil merebut kota demi kota hingga akhirnya menaklukkan Bordeaux pada 1453, menandai akhir resmi Perang Seratus Tahun.
Dampak Besar Perang Seratus Tahun
Konflik panjang ini membawa perubahan besar bagi Eropa:
Lahirnya Nasionalisme Modern
Perang menumbuhkan rasa identitas kebangsaan. Prancis dan Inggris mulai melihat diri mereka bukan hanya sebagai kerajaan feodal, tetapi sebagai bangsa yang bersatu di bawah satu mahkota.
Kemajuan Teknologi Militer
Perang ini menandai berakhirnya era ksatria tradisional dan kelahiran senjata api dan artileri. Busur panjang Inggris dan meriam Prancis mengubah cara perang selamanya.
Kehancuran Ekonomi dan Sosial
Wilayah pedesaan hancur, jutaan penduduk tewas, dan perdagangan terganggu selama satu abad. Namun, perang juga mempercepat pergeseran kekuasaan dari bangsawan ke raja dan rakyat.
Kebangkitan Kekuasaan Monarki
Setelah perang, Raja Charles VII memperkuat kekuasaan kerajaan Prancis dan membentuk tentara nasional pertama, menandai lahirnya negara modern di Eropa.












