Pelajaran Berharga dari Tragedi Ponpes Al Khoziny: Infrastruktur Rentan Pesantren Tua Harus Dibenahi
Medan Bicara – Pelajaran Berharga dari Tragedi ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, bukan sekadar musibah biasa. Kejadian ini menjadi alarm keras yang menyadarkan publik dan pemerintah akan kerentanan infrastruktur pesantren-pesantren tua di Indonesia.
Bangunan yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, dibangun dengan dana swadaya dan tanpa pengawasan teknis memadai, kini menyimpan potensi bahaya bagi para santri dan pengurus pesantren yang tinggal di dalamnya.
Pelajaran Berharga dari Tragedi Tragedi yang Mengungkap Kerapuhan Fisik
Musala yang ambruk di Al Khoziny sudah berdiri sejak lama dan diketahui belum pernah mengalami renovasi struktural besar. Runtuhnya bangunan tersebut mengakibatkan korban luka dan menimbulkan kekhawatiran soal keamanan gedung-gedung lainnya di lingkungan pesantren.
Pondok Pesantren Al Khoziny sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur, bahkan Indonesia, dengan usia lebih dari 125 tahun. Seiring waktu, tanpa perawatan dan perbaikan menyeluruh, struktur bangunan menua dan kehilangan kekuatan menopangnya.
Pesantren: Simbol Spiritualitas yang Terlupakan Secara Fisik
Pesantren selama ini menjadi tiang pendidikan keagamaan yang kokoh dari sisi nilai. Namun secara fisik, banyak pesantren tertinggal — baik dari sisi sanitasi, ruang belajar, maupun keamanan bangunan.
Banyak di antaranya yang dibangun secara bertahap, mengandalkan gotong royong, tanpa sertifikasi struktural maupun keterlibatan insinyur bangunan. Padahal, di dalamnya ribuan santri beraktivitas setiap hari.
“Kita tidak bisa lagi mengabaikan aspek teknis hanya karena bangunan ini digunakan untuk keperluan ibadah atau pendidikan agama. Keamanan fisik adalah bagian dari ikhtiar menjaga nyawa,” ujar seorang pengamat tata kota dari Surabaya.
Baca Juga: Erika Carlina Nangis Haru Dilamar DJ Bravy di Panggung Synchronize Fest
Tanggapan Pemerintah dan Seruan Perbaikan
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menyoroti langsung kondisi ini. Ia menyebut bahwa kejadian Al Khoziny harus menjadi titik balik dalam memperbaiki sistem pembangunan dan pemeliharaan pesantren di seluruh Indonesia.
Kita butuh audit menyeluruh terhadap pesantren-pesantren tua, terutama yang memiliki bangunan berusia lebih dari 50 tahun. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu kolaborasi dengan organisasi keagamaan, kampus teknik, hingga lembaga filantropi,” ujar Cak Imin saat konferensi pers di Jakarta.
Pemerintah juga sedang menggodok program pendampingan teknis dan bantuan renovasi pesantren dalam skema pembiayaan tahun 2026. Termasuk di antaranya insentif bagi pesantren yang bersedia membongkar atau merenovasi bangunan tua tanpa standar keamanan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Audit Teknis Bangunan Pesantren Tua
Melibatkan ahli struktur sipil, arsitek, dan insinyur bangunan dari universitas-universitas untuk mengecek kekuatan bangunan.
Pemberian Insentif Renovasi Struktural
Pemerintah pusat dan daerah bisa menyalurkan dana hibah atau pinjaman lunak untuk memperkuat struktur bangunan pesantren.
Program Edukasi Konstruksi Aman untuk Pengurus Pesantren
Pengurus pondok perlu dibekali pengetahuan dasar tentang konstruksi, agar ke depan tidak membangun tanpa standar keamanan.
Pelibatan Swasta dan Donatur
Banyak pesantren dibangun oleh masyarakat. Skema CSR dari perusahaan-perusahaan nasional bisa diarahkan untuk renovasi pesantren tua.
Jangan Tunggu Tragedi Terulang
Tragedi di Ponpes Al Khoziny adalah cermin dari kelalaian kolektif — bahwa keamanan dan keselamatan dalam dunia pendidikan, termasuk pesantren, belum jadi prioritas utama. Bangunan yang rapuh seharusnya tidak lagi menjadi tempat belajar generasi penerus bangsa.
Saatnya semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat sipil, mengambil pelajaran dari kejadian ini. Memuliakan pesantren bukan hanya soal menjaga tradisi dan ilmu, tapi juga memastikan tempatnya layak dan aman ditinggali.












